[Update] Info Temuan Drone Emprit: Tayangan Videotron Disetop, Anies Baswedan Untung Besar Update 2023

Huntnews.id — Pelaku yang menghentikan tayangan videotron Anies Baswedan hendak mencegah kampanye meluas. Temuan Drone Emprit justru bertolak belakang.

Drone Emprit langsung menganalisis dampak dari takedown atau penghentian tayangan videotron tersebut.

Menguji respons netizen di media sosial, khususnya Twitter terhadap videotron Anies yang dibuat fandom Humanies sebelum dan setelah ditakedown? Apakah terjadi Streisand Effect?

Pemantauan dan perekaman data dilakukan dua hari yakni, 15-16 Januari 2024.

Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan, grafik menunjukkan tren jumlah sebutan (mentions) di dua media, yaitu berita online dan Twitter, terkait isu videotron sebelum dan setelah di-takedown pada 15 Januari.

Sebelum penurunan, grafik menunjukkan jumlah sebutan yang relatif stabil dan lebih rendah dengan jumlah penulis aktif (active authors) sebanyak 9,297.

Setelah di-takedown, terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah sebutan serta lonjakan besar jumlah penulis aktif menjadi 32,453.

“Dari analisis singkat ini, terlihat ada indikasi dari apa yang bisa diinterpretasikan sebagai ‘Streisand Effect’. Fenomena Streisand Effect terjadi ketika upaya untuk menyembunyikan, menghapus, atau menyensor informasi memiliki efek sebaliknya, yaitu meningkatkan publisitas dan menjadi lebih terkenal atau lebih banyak dibicarakan,” jelas Ismail dikutip Rabu 17 Januari 2024.

Dalam konteks grafik ini, tampak bahwa tindakan penurunan ‘videotron’ telah menyebabkan peningkatan percakapan yang signifikan mengenai topik tersebut, yang ditandai dengan lonjakan jumlah sebutan dan penulis aktif yang membicarakan isu tersebut. Ini bisa menjadi bukti bahwa upaya penurunan tersebut mungkin telah memicu lebih banyak perhatian daripada jika tidak ada tindakan yang diambil.

Berdasarkan data yang diberikan Artificial Intelligence (AI), terdapat beberapa percakapan yang terkait dengan videotron yang diturunkan.

  1. Videotron Anies Baswedan diturunkan:

Videotron Anies Baswedan yang dipesan oleh Olppaemi Project diturunkan pada 15 Januari 2024. Videotron tersebut seharusnya tayang selama seminggu, namun diturunkan kurang dari 24 jam setelah dipasang.

Ada kekagetan dan kekecewaan dari beberapa pengguna media sosial terkait penurunan videotron tersebut.

  1. Reaksi dan tanggapan terhadap penurunan videotron:

Beberapa pengguna media sosial menyatakan dukungan dan semangat mereka terhadap Anies Baswedan meskipun videotron diturunkan.

Ada juga pengguna media sosial yang menyatakan kekecewaan dan mengkritik penurunan videotron tersebut.

Beberapa pengguna media sosial mengaitkan penurunan videotron dengan intimidasi dari rezim atau pemerintah.

  1. Pertanyaan dan spekulasi terkait penurunan videotron:

Beberapa pengguna media sosial bertanya-tanya mengapa videotron Anies Baswedan diturunkan.

Ada spekulasi bahwa penurunan videotron terkait dengan intimidasi dari rezim atau pemerintah.

Ada juga pertanyaan apakah videotron Anies Baswedan di daerah lain juga akan diturunkan.

  1. Dukungan dan kekecewaan terhadap Anies Baswedan:

Beberapa pengguna media sosial menyatakan dukungan dan semangat mereka terhadap Anies Baswedan meskipun videotron diturunkan.

Namun, ada juga pengguna media sosial yang kecewa dengan penurunan videotron dan menyatakan bahwa Anies Baswedan seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih tempat pemasangan videotron.

  1. Persepsi terhadap elektabilitas Anies Baswedan:

Ada pengguna media sosial yang menyatakan bahwa penurunan videotron Anies Baswedan tidak mengurangi semangat mereka untuk memilihnya.

Namun, ada juga pengguna media sosial yang menyatakan bahwa penurunan videotron menunjukkan bahwa elektabilitas Anies Baswedan tidak sebesar yang diklaim sebelumnya.

Kesimpulannya, isu videotron yang terkait dengan Anies Baswedan telah memicu reaksi yang signifikan dan beragam di media sosial dan online.

Tindakan penurunan videotron tampaknya telah memicu fenomena Streisand Effect, di mana upaya untuk mengontrol atau menyembunyikan informasi justru memperbesar perhatian terhadapnya. Hal ini ditunjukkan oleh lonjakan percakapan di media sosial dan online pasca penurunan videotron.

Kemudian, ada polarisasi yang jelas dalam opini publik, dengan beberapa orang menunjukkan dukungan kuat terhadap Anies Baswedan melalui berbagai tagar. Sementara yang lain menyampaikan kritik dan meminta transparansi serta akuntabilitas atas kejadian tersebut.

Media sosial dan platform online seperti Twitter dan YouTube menjadi ruang utama untuk diskusi terkait isu ini, dengan banyak cuitan, tagar, dan video yang memperdebatkan berbagai aspek dari penurunan videotron.

Lalu, komunitas penggemar K-pop (Kpopers) juga terlibat dalam diskusi ini, yang mungkin menunjukkan bahwa konten videotron memiliki kaitan dengan K-pop atau bahwa komunitas ini secara aktif terlibat dalam diskusi politik.

Pemberitaan media juga menunjukkan isu videotron ini telah menjadi berita utama, dengan topik-topik yang berkaitan dengan ranah hukum, politik, dan pengawasan pemilu. Bawaslu dan Pemprov DKI Jakarta disebutkan dalam konteks penegakan aturan dan peraturan.

Sementara publik menuntut klarifikasi dan informasi lebih lanjut mengenai kejadian ini, menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan keterbukaan dari figur publik dan lembaga terkait.

Terkait citra publik, isu videotron ini memiliki dampak signifikan terhadap citra publik Anies Baswedan. Dipicu beberapa berita dan tagar yang menunjukkan dukungan, sementara yang lain menyoroti kontroversi atau potensi pelanggaran yang terkait dengan videotron tersebut.

“Kesimpulan ini menegaskan bahwa isu videotron terkait Anies Baswedan telah menghasilkan diskusi yang luas dan mendalam, mencakup aspek sosial, hukum, dan politik, serta menyoroti dinamika interaksi antara media sosial, opini publik, dan tanggapan pejabat terpilih dalam era digital saat ini,” tutup Ismail Fahmi. (*)

Silahkan kirim ke email: [email protected].

Stay connect With Us :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *