[Update] Info Jimly Asshiddiqie: Tokoh-tokoh Berpengaruh Sebaiknya Mulai Menurunkan Suhu Update 2023

Huntnews.id, JAKARTA—Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menganggap anggapan bahwa Pilpres 2024 adalah pemilihan terburuk dalam sejarah Indonesia sebagai hal biasa.

Penilaian seperti itu kata dia selalu muncul dari pihak yang kalah dalam setiap gelaran pilpres atau pemilu.

“Pak Jusuf Kalla bilang, ini Pemilu terburuk dalam sejarah. Nah itu tim-nya 03, Todung Mulya Lubis siapa lagi, sama ngomongnya, ini Pemilu 2024 terburuk dalam sejarah. Ya biasa itu. Jadi biasanya yang kalah itu selalu bilang ini terburuk,” kata dalam acara halal bihalal ICMI di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (1/5/2024) malam dikutip dari Republika.co.id.

Pakar hukum tata negara itu mengatakan, usai Pilpres 2019 dulu juga muncul anggapan “terburuk” dari pihak yang kalah. Anggapan serupa muncul dari gelaran pilpres sebelumnya.

Jimly lantas membandingkan pelaksanaan Pemilu 2024 dan 2019. Dia mengatakan, sebagian masyarakat menganggap Pemilu 2019 “parah” karena ada 900 lebih petugas pelaksana pemilu yang meninggal.

Selain itu, ada sejumlah orang meninggal dan ratusan luka-luka karena demonstrasi menolak hasil Pilpres 2019 di depan Kantor Bawaslu RI. Selain itu, struktur birokrasi secara alamiah “secara diam-diam ikut main” mengampanyekan Jokowi karena dia adalah presiden pejawat.

“Sedangkan Pemilu 2024, ya tidak separah itu, yang meninggal cuma 90 petugasnya dan yang demo tidak ada yang jadi korban, dan isu politik agama itu tidak seperti 2019. Maka ada yang menilai, sebenarnya lebih baik ini (Pemilu 2024),” jelas mantan Ketua MK itu.

Tingkat partisipasi pemilih, lanjut Jimly, Pemilu 2024 juga tak beda jauh dengan 2019. Saat Pemilu 2019 tingkat partisipasi pemilih 81,9 persen, sedangkan 2024 sebesar 81,8 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *