[Update] Info Din Syamsuddin: Jika Ingin Membuka Kebenaran, Seharusnya Tak Ada Parpol yang Tolak Hak Angket Update 2023

Huntnews.id – Din Syamsuddin menegaskan, jika tujuannya hendak membuka kebenaran, seharusnya tak ada parpol yang menolak digulirkannya hak angket penyelenggaraan pemilu.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menegaskan hal tersebut pada acara buka bersama “Guyub bersama Amin di Markas Pemenangan Timnas Amin di Jalan Diponegoro Nomor 10 Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 13 Maret 2024 lalu.

Menurut Din, apabila mereka merasa telah melakukan hal yang benar dan tak melakukan kecurangan, seharusnya tak ada penolakan agar dibuka seterang-terangnya untuk menjawab dugaan kecurangan pemilu.

Karenanya, Din menegaskan sebagai bagian dari masyarakat sipil mendukung agar kubu 01 dan 03 lewat partai pengusung menggulirkan Hak Angket DPR RI terhadap penyelenggaraan pemilu 2024.

“Hak angket dalam rangka membahas secara terbuka apa bentuk kecurangan kejahatan itu, seharusnya tidak ada parpol yang menolak, kalau mereka benar tidak akan menolak biarkan habis-habisan buka, mudah-mudahan ini jadi kenyataan,” ungkapnya.

“Maka saya yang tidak termasuk dalam TIMNAS AMIN mendorong dan mendukung agar partai yang dalam koalisi AMIN maupun 03 untuk mendorong dan mendesak DPR RI menggunakan hak angket, menggunakan hak angket sangat konstitusional,” tambahnya.

Din menyinggung adanya intervensi yang dilakukan sehingga menurutnya berdampak pada pilihan rakyat.

Hal-hal seperti iming-iming uang dan sembako menurutnya telah melanggar prinsip jujur dan adil dalam berpolitik.

“Seharusnya rakyat menentukan pilihannya sendiri tapi dirampas dengan iming-iming, dengan sembako, bansos, ini yang terjadi, kejahatan terhadap rakyat, terhadap hak rakyat, dan kedaulatan rakyat,” jelasnya.

Din menilai prinsip kejujuran dan keadilan hilang dari kehidupan politik Indonesia.

Din mengungkapkan di era reformasi prinsip langsung, bebas, dan rahasia (LUBER) yang dijadikan prinsip, tetapi hal itu dinilai kurang sehingga desakan adanya pemilu yang jujur dan adil (Jurdil).

“Partai yang berposisi waktu itu khususnya PPP dan PDI sangat mendesak adanya jurdil, baru era reformasi jadi prinsip pemilu dan pilpres,” ungkapnya.

Hanya saja menurut Din, saat ini prinsip jurdil sudah hilang dari perpolitikan di Indonesia, khususnya pemilu 2024.

Din melihat sudah banyak pakar dan tokoh yang bersuara yang mana menilai telah terjadi kecurangan yang meniadakan prinsip kejujuran dan keadilan.

“Hanya saja dua hal penting ini yang hilang, bak mahkota yang hilang dari kehidupan politik Indonesia karena ketidakjujuran dan ketidakadilan, bahkan banyak pakar yang mengamati dan menyimpulkan telah terjadi kecurangan sehingga pemilu pilpres bersifat curang terstruktur, sistematis dan masif,” jelasnya. (we/asw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *